
SANGATTAPOS.COM – Pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sektor kuliner. Dinas Pariwisata mencatat terdapat 21 subsektor yang menjadi bagian dari ekonomi kreatif dan memiliki peluang untuk dikembangkan.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kutim, Akhmad Rifanie, mengatakan keberagaman subsektor tersebut menjadi potensi yang perlu dipetakan secara menyeluruh.
“Ekonomi kreatif itu ada 21 subsektor. Jadi bukan hanya kuliner, tetapi banyak bidang lain yang juga memiliki potensi untuk dikembangkan,” jelas Rifanie.
Beberapa di antaranya meliputi kuliner, musik, fotografi, videografi, kriya, fashion, seni pertunjukan, film hingga modifikasi kendaraan.
Ia menilai setiap subsektor memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pola pembinaan tidak bisa diseragamkan.
“Setiap subsektor punya karakter masing-masing. Kebutuhannya juga berbeda, sehingga pembinaannya perlu melihat kondisi dan potensi dari masing-masing pelaku,” ujarnya.
Dalam sebuah kegiatan, misalnya, sejumlah subsektor dapat terlibat secara bersamaan. Fotografer dan videografer menangani dokumentasi, pekerja musik dan seni pertunjukan tampil, sementara pelaku kuliner serta UMKM membuka ruang pemasaran produk. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi kreatif saling berkaitan.
“Dalam satu kegiatan saja bisa melibatkan beberapa subsektor sekaligus. Itu menunjukkan bahwa ekonomi kreatif sebenarnya saling terhubung dan bisa saling mendukung,” katanya.
Bahkan perkembangan teknologi baru seperti kecerdasan buatan atau artificial intelligence juga mulai menjadi bagian dari pembahasan ekonomi kreatif.
“Sekarang teknologi juga berkembang sangat cepat, termasuk artificial intelligence. Ini menjadi bagian yang perlu kita lihat dalam perkembangan ekonomi kreatif ke depan,” tutur Rifanie.
Dinas Pariwisata terus berupaya memetakan seluruh potensi tersebut melalui database SIEKTA. Data yang lengkap diharapkan dapat menjadi dasar untuk menentukan kebijakan pengembangan ekraf secara lebih tepat.
Dengan pendekatan tersebut, ekonomi kreatif di Kutim diharapkan tidak hanya berkembang pada satu subsektor, tetapi tumbuh sebagai ekosistem yang saling mendukung. (Adv/Kominfo)
