
SANGATTAPOS.COM – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus menunjukkan langkah konkret dalam percepatan penurunan stunting melalui gerakan terpadu lintas sektor. Komitmen tersebut ditegaskan dalam Podcast Bangga Kencana bertema Peran TPPS Kecamatan Mendukung Layanan Cap Jempol Stop Stunting di Kutai Timur yang digelar di Ruang Multimedia Kantor Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutim, Rabu (18/2/2025).
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi B, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Diperlukan data akurat serta kerja bersama dari tingkat kabupaten hingga desa. Berdasarkan data terbaru, terdapat 11.973 kepala keluarga (KK) berisiko stunting dan 1.613 anak tercatat mengalami stunting di Kutim. Seluruhnya ditangani dengan pendekatan by name by address agar intervensi lebih terukur dan tepat sasaran.
“Kalau keluarga berisiko bisa kita tekan, maka potensi stunting baru dapat dicegah. Kita harus bekerja dari hulu, memastikan pencegahan berjalan maksimal,” tegas Junaidi.
Upaya tersebut membuahkan hasil nyata di sejumlah kecamatan. Di Muara Ancalong, angka stunting berhasil ditekan dari 40 kasus menjadi 25 kasus melalui strategi jemput bola yang melibatkan kader posyandu, PKK, dan tenaga kesehatan.
Di Batu Ampar, validasi data lapangan serta dukungan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) mendorong penurunan kasus dari 30 menjadi 17. Sementara di Muara Bengkal, sinergi tujuh kepala desa dan TPPS kecamatan menurunkan angka stunting dari 158 menjadi 121 kasus pada awal Januari 2026.
Gerak cepat ini menunjukkan bahwa kolaborasi, akurasi data, dan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat menjadi kunci utama. Dengan penguatan edukasi, perbaikan sanitasi, dan peningkatan kualitas gizi keluarga, Pemkab Kutim optimistis mampu mencetak generasi sehat dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. (*)
