
SANGATTAPOS — Dukungan sektor swasta terhadap pelayanan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) di Kutai Timur ternyata masih sangat minim. Dari seluruh kecamatan di Kutim, baru wilayah Bengalon yang tercatat pernah menerima bantuan unit kendaraan operasional dari perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Plt Kabid Sarana dan Prasarana Damkar Kutim, Sudarto, mengungkapkan bahwa selama ini bantuan dari dunia usaha hampir tidak ada, kecuali di Bengalon yang pernah menerima unit single cabin melalui CSR.
“Unit bantuan tersebut digunakan untuk kegiatan ringan seperti penanganan ular, tawon, maupun transportasi anggota saat patroli,” jelasnya.
Sementara kebutuhan utama, seperti unit firetruck dan alat pelindung diri (APD), masih sepenuhnya bergantung pada anggaran daerah. Padahal, banyak perusahaan besar beroperasi di Kutim, terutama di sektor tambang dan perkebunan, yang seharusnya memiliki tanggung jawab sosial terhadap keselamatan masyarakat sekitar.
“Kami berharap perusahaan bisa ikut peduli, jangan hanya bergerak saat terjadi kebakaran besar,” tegas Sudarto.
Ia menekankan bahwa kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta sangat penting dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana. Bahkan bantuan kecil seperti pompa portabel, alat pemadam ringan, atau APD tambahan akan sangat membantu kerja petugas di lapangan.
Sudarto menambahkan, kolaborasi yang lebih nyata antara Damkar dan dunia usaha bisa meningkatkan kapasitas operasional serta respons cepat saat bencana terjadi.
“Kalau tanggung jawab sosial dijalankan dengan baik, masyarakat akan lebih terlindungi dan risiko kerugian akibat kebakaran bisa diminimalkan,” tutupnya.
Upaya ini sekaligus menjadi ajakan bagi seluruh pihak, termasuk sektor swasta, untuk berperan aktif dalam menjaga keselamatan warga Kutai Timur melalui dukungan nyata bagi Damkarmat. (Adv)
