
SANGATTAPOS — Indeks Kerawanan Sosial (IKS) Kutai Timur menunjukkan tren positif dengan penurunan sekitar 10–15 persen dibanding tahun sebelumnya. Data ini menegaskan efektivitas langkah-langkah antisipatif yang dilakukan Kesbangpol dalam menjaga stabilitas sosial.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) melalui Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Kutim Muhammad Yusufsyah, menjelaskan, IKS digunakan untuk memetakan potensi konflik, mulai dari masalah tapal batas, narkoba, hingga kekerasan rumah tangga dan perceraian dini.
“Dengan pemetaan yang detail, pemerintah dapat memberikan intervensi tepat waktu di daerah rawan dan mengalokasikan sumber daya secara optimal,” pungkasnya.
FKDM berperan penting sebagai mata dan telinga di tingkat desa dan kecamatan. Setiap laporan dianalisis, dikategorikan, dan diteruskan ke instansi terkait agar langkah penanganan bisa dilakukan secara cepat dan efektif.
“Pendekatan ini juga melibatkan Babinsa dan Perkopimcam sebagai penghubung dengan masyarakat.
Hasilnya, konflik yang berpotensi meningkat dapat dicegah sejak awal,” ujar Yusuf.
Masyarakat merasa lebih aman, dan hubungan antara pemerintah dan komunitas semakin harmonis. Indeks yang menurun juga menjadi indikator keberhasilan program pembinaan sosial dan pendidikan kebangsaan yang diterapkan di sekolah dan komunitas.
Kesbangpol berharap, tren positif ini terus berlanjut dengan memperkuat deteksi dini, edukasi generasi muda, dan mediasi di masyarakat. Kutai Timur diharapkan tetap aman, harmonis, dan siap menghadapi berbagai tantangan sosial dengan strategi berbasis data dan kolaborasi lintas sektor. (Adv)
